MATEMATIKA
A. MACAM-MACAM BILANGAN 1. Bilangan Asli 1, 2, 3 , 4, 5, 6, … , dan
seterusnya. 2. Bilangan Cacah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7… , dan seterusnya. 3.
Bilangan Prima Bilangan prima yaitu bilangan asli yang tepat mempunyai 2
faktor, yaitu 1 dan bilangan itu sendiri. Yaitu: 2, 3, 5, 7, 11, … , dan
seterusnya. 4. Bilangan Bulat …, –2, –1, 0, 1, 2, 3, … , dan seterusnya. 5.
Bilangan Rasional Bilangan rasional yaitu bilangan dalam bentuk a b , dengan a
dan b anggota bilangan bulat dan b ≠ 0. Contoh: 1 4 à a = 1 dan b = 4. B. SIFAT
OPERASI PADA BILANGAN BULAT Misalkan: B = { … ,–3 ,–2 ,–1 ,0 ,1 ,2 ,3 , … }
adalah himpunan bilangan bulat.
Ø Sifat operasi
penjumlahan pada bilangan bulat. a. Tertutup Untuk a, b ∈ B maka a + b ∈ B dengan “∈” dibaca “anggota himpunan”.
b. Komutatif a + b = b + a c. Asosiatif
(a + b) + c = a + (b + c) d. Identitas a + 0 = 0 + a = a dengan “0”
adalah unsur identitas. e. Invers (lawan) a + (–a) = (–a) + a = 0 dengan “–a”
adalah invers dari a. Ø Sifat
operasi pengurangan pada bilangan bu- lat, yaitu tertutup. a – b = a + (–b) Ø Sifat operasi perkalian pada bilangan
bulat. a. Tertutup Untuk a, b ∈ B maka a × b
∈ B b. Komutatif a × b = b × a c. Asosiatif (a × b)
× c = a × (b × c) d. Identitas a × 1 = 1 × a = a dengan “1” adalah elemen identitas
terhadap perkalian.
Invers
a × 1 a
= 1 a
× a = 1
dengan “ 1 a
” adalah invers dari a terhadap perkalian. f. Distributif terhadap
penjumlahan dan pengurangan (a + b) × c = (a × c) + (b × c) (a – b) × c = (a ×
c) – (b × c) Ø Sifat operasi
pembagian pada bilangan bulat. a : b = a × 1 b Sifat yang berlaku adalah sifat
distributif ter- hadap penjumlahan dan pengurangan, yaitu: (a + b) : c = (a :
c) + (b : c) (a – b) : c = (a : c) – (b : c) C. KPK DAN FPB 1. KPK (Kelipatan
Persekutuan Terkecil) 2. FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) Contoh: Tentukan KPK
dan FPB dari 12 dan 40! Faktorisasi dari bilangan 12 dan 40 dapat di- tuliskan:
2 12 2 2 3 2 3 = × × = × dan 3 40 2 2 2 5 2 5 = × × × = × l KPK dari 12 dan 40: 23 × 3 × 5 = 120. l FPB dari 12 dan 40: 22 = 4.
D. BILANGAN PECAHAN Contoh: Bilangan 3 4 , dengan 3 (tiga) sebagai
pembilang dan 4 (empat) sebagai penyebut. 1. Macam-macam Bentuk Pecahan a.
Pecahan biasa. Contoh: 1 2 4 , , 4 3 9 , dll. b. Pecahan campuran. Contoh: 1 4
2 , 4 4 5 . c. Pecahan desimal. Contoh: 0,5; 0,75; dll. d. Persen (%) atau per
seratus. Contoh: 25% , 47% ,75%, dll. e. Permil (0/00) atau per seribu. Contoh:
50/00, 200/00, 860 0/00, dll. 2. Operasi pada Bilangan Pecahan a. Penjumlahan l Jika penyebut dua pecahan sama: a b a b, c
0 c c c + + = ≠ Contoh: 1 2 1 2 3 7 7 7
7 + + = = l Jika penyebut dua pecahan
berbeda: Cara 1: menggunakan perkalian silang. ( ) ( ) a d b ca c ; b,d 0 b d b d × + × + = ≠ ×
Cara 2: menyamakan penyebutnya. Contoh: 1 5 .... 8 12 + = Cara 1:
menggunakan perkalian silang. 1 5 1 12 5 8 12 40 52 13 8 12 8 12 96 96 24 × + ×
++ = = = = × Cara 2: menyamakan penyebutnya.
KPK dari 8 dan 12 adalah 24. 1 5 3 10 13 8 12 24 24 + + = = Sifat
penjumlahan bilangan pecahan sama seperti sifat penjumlahan pada bilangan
bulat. l Komutatif a c c a b d d b + = +
l Asosiatif a c e a c e b d f b d f
+ + = + + b. Pengurangan l Jika penyebut kedua pecahan sama a b a b, c 0 c c c - - = ≠
l Jika penyebut dua pecahan berbeda Cara
1: menggunakan perkalian si- lang. ( ) ( ) a d b ca c ; b,d 0 b d b d × - × - = ≠ × Cara 2: menyamakan
penyebutnya.
Sifat pengurangan bilangan pecahan sama seperti sifat pengurangan pada
bilangan bulat. c. Perkalian a c a c = ; b,d
0 b d b d ×× ≠ × d. Pembagian a c a : c : ; b, c, d 0 b d b : d = ≠ atau a c a d : ; b, c, d 0 b d b c × = ≠ × 3. Mengurutkan Pecahan l Menyamakan penyebut Semakin besar
nilai pembilangnya, maka pecahan tersebut akan bernilai semakin besar dan
berlaku sebaliknya. l Menyamakan
pembilang Semakin kecil nilai penyebutnya, maka pecahan tersebut bernilai
semakin besar dan berlaku sebaliknya. Contoh: Perhatikan kelompok pecahan
berikut. 15 15 15 15 , , , 43 51 42 49 Jika diurut dari pecahan terkecil ke
pecahan terbesar menjadi: 15 15 15 15 , , , 51 49 43 42 .
Catatan: a0 = 1, 0a = 0 00 = tidak terdefinisikan ( )m m a a - = , m
genap, ( )m m a a - = - , m ganjil,
G. BENTUK BAKU 1. Bilangan lebih dari 10. na 10 × 2. Bilangan antara 0
dan 1. na 10 -× dengan 1 a 10 ≤ ≤ , n
bilangan asli. Contoh: l 3,750 =
3,75×103 l 0,00432 = 4,32×10–3
2 Bentuk Aljabar
A. PENGERTIAN Ø Variabel adalah
suatu besaran matematika yang nilainya dapat berubah-ubah. Ø Koefisien adalah suatu nilai yang
dilengkapi dengan variabel. Ø Konstanta
adalah suatu nilai yang tetap tidak bergantung pada variabel. Contoh: 1. a3 = a
× a × a pqr = p × q × r 2. 2 2 x y 2xy 10xy 15 + + + + Bentuk aljabar tersebut
terdiri dari: l variabel: x dan y, l konstanta: 15, l koefisien dari x2 adalah
1, koefisien dari 2xy adalah 2, dan koefisien dari 10xy adalah 10, l derajat
bentuk aljabar adalah derajat yang tebesar yaitu 2, l suku-suku sejenis adalah
suku-suku yang mempunyai variabel sama dan de- rajat sama, yaitu: 2xy dan 10xy,
x2 dan y2 bukan merupakan suku sejenis karena variabelnya berbeda.
B. OPERASI BENTUK ALJABAR 1. Penjumlahan dan Pengurangan Suku Sejenis
Bentuk aljabar dapat dijumlahkan atau di- kurangkan hanya jika suku-sukunya
sejenis. Contoh: l 4x + 2x = (4 + 2)x = 6x l a2 + b2 + 12ab – 10ab + 3b2 Pada
bentuk aljabar tersebut, suku-suku yang sejenis adalah b2 dan 3b2. Selain itu
juga 12ab dan 10ab. Jadi
a b 12ab 10ab 3b a b 3b 12ab 10ab a 1 3 b 12 10 ab a 4b 2ab + + - + = +
+ + - = + + + - = + + 2. Perkalian dan Pembagian a. Perkalian Operasi perkalian
bentuk aljabar dapat dilakukan pada suku yang tidak sejenis. Contoh: 4p×4q×4pq
= (4×4×4)×(p×q×p×q) = 64p2q2 b. Pembagian Contoh: 2 2 a b a a b a b:ab a ab a b
× × = = = × 3. Pemangkatan Sifat-sifat pemangkatan bilangan bulat juga berlaku
pada pemangkatan bentuk aljabar.
Contoh: (2ab)2 = 2ab ×2ab = (2 × 2) × (ab × ab) = 4(ab)2 = 4a2b2 Ø Pemangkatan bentuk aljabar dengan bentuk a + b. Contoh: (a +
b)2 = (a + b)(a + b) = (a + b)a + (a +
b)b = a2 + ab + ab + b2 = a2 + 2ab + b2 Ø Pemangkatan bentuk aljabar dengan bentuk a – b. Contoh: (a – b)2 =
(a – b)(a – b) = a2 – 2ab + b2
Segitiga Pascal.
1+1
1 2 2+1
3 11+3 3 3
1 1 1
1 2 1
1 3 3 1
1 4 6 4 1
Penggunaannya adalah sebagai berikut. Perpangkatan bentuk aljabar (a +
b)n. l (a + b)0 = 1 (gunakan baris 1
pola bilangan Pascal) l (a + b)1 = a + b
(gunakan baris 2 pola bilangan Pascal)
l (a + b)2 = a2 + 2ab + b2
(gunakan baris 3 pola bilangan Pascal) l (a + b)3 = a3 + 3a2b + 3ab2 +
b3 (gunakan baris 4 pola bilangan
Pascal) Pemangkatan bentuk aljabar (a – b)n juga mengikuti pola segitiga
Pascal. Bedanya, tan- da koefisiennya selalu berganti dari (+) untuk suku
ganjil dan (–) untuk suku genap. (a – b)0 = 1 (a – b)1 = a – b (a – b)2 = a2 –
2ab + b2 (a – b)3 = a3 – 3a2b + 3ab2 – b3 C. FPB DAN KPK BENTUK ALJABAR Contoh:
Tentukan KPK dan FPB dari 12a3b2c2 dan 6a2c3. Jawab: 12a3b2c2 = 22 × 3 × a3 × b2 × c2 6a2c3 = 2 × 3 × a2 ×
c3 l KPK = 22 × 3 × a3 × b2 × c3 = 12a3b2c3 l FPB Faktor-faktor yang sama: 22
dengan 2, 3 den- gan 3, a3 dengan a2, c2 dengan c3. Selanjut- nya diambil
faktor-faktor yang berderajat ter- kecil, kemudian dikalikan sehingga
diperoleh: FPB = 2 × 3 × a2 × c2 = 6a2c2 D. PECAHAN BENTUK ALJABAR Bentuk
aljabar juga dapat berupa pecahan. Contoh: a 2b , 2x y z + , 35x x xy xz + + ,
dan sebagainya.
Operasi pada pecahan bentuk aljabar. 1. Penjumlahan dan Pengurangan
Contoh: l a a 2a a 3a + = + = 2 4 4 4 4 l 2 2 a 2 a 2b a 2b = = b a ab ab ab --
- 2. Perkalian dan Pembagian Perkalian pecahan bentuk aljabar: a c ac = b d bd
× Pembagian pecahan bentuk aljabar: a c a d ad : = = b d b c bc × Contoh: l 2
3y x 3xy = z 2z 2z × l p 2 p qr pqr : = = s qr s 2 2s × 3. Pemangkatan
Pemangkatan pecahan bentuk aljabar adalah perkalian pecahan bentuk aljabar
tersebut dengan dirinya sendiri sebanyak n kali.
E. PEMFAKTORAN 1. Bentuk distributif ax + ay = a(x + y) ax – ay = a(x –
y) dengan a bisa koefisien atau variabel. Contoh: l 5x + 10y = 5(x + 2y), a
berbentuk koefisien. l xy – xz = x(y – z), x berbentuk variabel. 2. Selisih
kuadrat a2 – b2 = (a + b)(a – b) Contoh: x2 – 9 = (x + 3)(x – 3) 3. Kuadrat
sempurna a2 + 2ab + b2 = (a + b)2 a2 – 2ab + b2 = (a – b)2 Contoh: l x2 + 6x +
9 = (x + 3)2 l x2 – 6x + 9 = (x – 3)2 4. Bentuk: x2 + bx + c = (x + p)(x + q),
dengan p + q = b dan pq = c Contoh: x2 + 3x + 2 = (x + 1)(x + 2)
5. Pemfaktoran ax2 + bx + c dengan a ≠ 1 Contoh: 2x2 + 3x + 1 bila
difaktorkan menjadi (2x + 1)(x + 1). Cara pemfaktorannya sebagai berikut.
Ubah 3x menjadi penjumlahan dua suku, misalnya x + 2x. 2x2 + 3x +
1 = 2x2 + x + 2x + 1 = (2x2 + x) + (2x + 1) = x(2x + 1) + (2x + 1) (sifat distributif) = (x + 1)(2x + 1)
F. PENYEDERHANAAN PECAHAN BENTUK ALJABAR
A. PERSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL (PLSV) Ø Persamaan linear adalah suatu persa- maan yang
variabel/peubahnya berpangkat (berderajat) paling tinggi 1 (satu). Ø Persamaan linear satu variabel
artinya suatu persamaan yang variabel/ peubahnya ber- pangkat (berderajat)
paling tinggi 1 (satu) dan hanya mempunyai satu variabel. Bentuk Umum Persamaan
Linear Satu Variabel ax + b = c Dengan: l a 0 ≠ dengan x
disebut variabel/peubah, l semua suku di sebelah kiri tanda “=” disebut
ruas kiri, l semua suku di sebelah kanan tanda “=” disebut ruas kanan. 2.
Operasi Persamaan Linear Satu Variabel Ø Kedua
ruas dalam satu persamaan dapat di- tambah (+), dikurang (–), dikali (×),
dibagi (:) dengan bilangan yang sama. Ø Setiap
perpindahan ruas dari ruas kiri ke ruas kanan atau sebaliknya selalu diikuti
dengan perubahan tanda bilangan (dari positif (+) menjadi negatif (–) dan
sebaliknya).
Untuk mencari penyelesaian dari PLSV dapat di- lakukan dengan cara
berikut. 1. Menambah atau mengurangi kedua ruas persamaan dengan bilangan yang
sama. Contoh: x – 2 = 4 ⇔x – 2 + 2 = 4
+ 2 (kedua ruas ditambah 2) ⇔ x = 6 2. Mengalikan atau membagi kedua ruas persa-
maan dengan bilangan yang sama. Contoh: 3x = 9 ⇔ 3x : 3 = 9 : 3 (kedua ruas
dibagi 3) ⇔ x = 3 3. Gabungan dari
operasi 1 dan 2. Contoh: 3x – 3 = 7 + x ⇔ 3x – 3 + 3 = 7 + x + 3 (kedua
ruas ditambah 3) ⇔ 3x = 10 + x ⇔ 3x – x = 10 + x – x (kedua ruas dikurangi x) ⇔ 2x = 10 ⇔ 2x : 2 = 10
: 2 (kedua ruas dibagi 2) ⇔ x = 5 Jadi, x = 5 adalah penyelesaian dari 3x – 3
= 7 + x.
B. PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL (PtLSV) Pertidaksamaan linear
satu variabel artinya suatu pertidaksamaan yang variabel/pe-ubahnya berpangkat
(berderajat) paling tinggi 1 (satu) dan hanya mempunyai satu variabel. Contoh:
x + 3 > 4; x 3x 1 ≥ - Untuk mencari penyelesaian dari pertidak-sa- maan
linear satu variabel (PtSLV) dapat dilaku- kan dengan cara: 1. menambah atau
mengurangi kedua ruas dengan bilangan yang sama; 2. mengalikan atau membagi
kedua ruas den- gan bilangan yang sama dengan catatan jika dikalikan atau
dibagi bilangan negatif, tanda pertidaksamaannya dibalik. Contoh: x 3x 4 ≥ + ⇔ x 3x 3x 3x 4 - ≥ - + (kedua ruas dikurangi 3x) ⇔ 2x 4 - ≥ ⇔ 1 1 2x 4 2 2
- × ≤ × - - (kedua ruas dikali 1 2- ,
akibatnya tanda pertidaksamaan- nya dibalik) ⇔ x 2 ≤ - Jadi, x 2 ≤ - adalah penyelesaian dari x 3x 4 ≥ + .
4 Aritmetika Sosial
A. HARGA PEMBELIAN, HARGA PENJUALAN, UNTUNG, DAN RUGI 1. Harga
pembelian yaitu harga yang didapat- kan oleh seorang pedagang ketika membeli
barang-barang dagangan. 2. Harga penjualan yaitu harga yang ditentu- kan oleh
seorang pedagang ketika menjual barang-barang dagangan ke pembeli. 3. Untung
(Laba) terjadi jika harga penjualan lebih besar (lebih tinggi) daripada
pembelian. 4. Rugi terjadi jika harga penjualan lebih kecil (lebih rendah)
daripada harga pembelian. UNTUNG Syarat: harga penjualan > harga pembelian
Untung = harga penjualan – harga pembelian untung % untung = 100% harga
pembelian × RUGI Syarat: harga penjualan < harga pembelian Rugi = harga
pembelian – harga penjualan rugi % rugi = 100% harga pembelian ×
HARGA PENJUALAN DAN HARGA PEMBELIAN Jika untung: Harga penjualan =
harga pembelian + untung Harga pembelian = harga penjualan – untung Jika rugi:
Harga penjualan = harga pembelian – rugi Harga pembelian = harga penjualan +
rugi B. RABAT (DISKON), BRUTO, TARA, DAN NETTO Ø Rabat atau diskon adalah potongan harga. Diskon = harga semula –
harga yang dibayar diskon % diskon =
100% harga semula × Ø Bruto
adalah berat kotor barang. Ø Netto
adalah berat bersih barang. Ø Tara
adalah berat kemasan. Bruto = netto + tara Netto = bruto – tara Tara = bruto –
netto tara %Tara = 100% bruto × Contoh:
Dalam sebuah peti kemasan mangga terdapat keterangan: Bruto = 100 kg dan tara =
5 %. Di- peroleh: Bruto = 100 kg Tara = 5% . 100 kg = 5 kg Netto = Bruto - tara
= 100 - 5 = 95 kg
C. BUNGA TABUNGAN (BUNGA BANK) Misalnya: Besarnya uang yang ditabung
adalah M, Besar bunga yang diberi bank adalah p%, Lama menabung adalah t tahun.
Diperoleh: Bunga selama 1 tahun = p%M × Bunga selama t tahun = ( ) p% M t × ×
Bunga selama n bulan = n p% M 12 × × Jumlah tabungan seluruhnya = M + bunga
Perhitungan suku bunga dalam persen bunga dalam setahun Suku bunga = 100% M ×
Contoh: Seorang nasabah menabung
pada sebuah bank sebesar Rp1.500.000,00 dengan suku bunga 12% per tahun.
Besarnya tabungan setelah 6 bu- lan adalah …. Jawab: 6 Bunga = 12%
Rp1.500.000,00 12 = 6% Rp1.500.000,00 = Rp90.000,00 × × × Tabungan setelah 6
bulan = tabungan awal + bunga = Rp1.500.000,00 + Rp90.000,00 = Rp1.590.000,00
A. SKALA ukuran pada gambar (peta)Skala = ukuran sebenarnya Skala 1 : n
artinya 1 cm pada peta mewakili n cm pada ukuran sebenarnya Contoh: Skala 1 :
100.000 artinya 1 cm mewakili 100.000 cm atau 1 km jarak sebenarnya. B.
PERBANDINGAN SENILAI DAN BERBALIK NILAI 1. Perbandingan Senilai
naik turun
Contoh: Banyak liter BBM dan jarak yang ditempuh. 2. Perbandingan
Berbalik Nilai a dan b dikatakan berbanding berbalik nilai jika saat nilai a
naik maka nilai b turun, begitu juga sebaliknya jika a turun maka nilai b naik.
Contoh: Banyak pekerja proyek dan lama waktu mengerjakan proyek.
Contoh: 1. Sebuah lapangan sepak
bola berbentuk persegi panjang berukuran panjang 100 m dan lebar 80 m. Jika
dibuat model dengan skala 1 : 500 maka luas lapangan bola pada model adalah ….
Jawab: Panjang sebenarnya = 100 m = 10.000 cm Lebar sebenarnya = 80 m = 8.000
cm
gambar gambar
sebenarnya sebenarnya
p Skala = = p
model sebenarnya p skala p 1 10.000 cm 20 cm 500 = × = × =
model sebenarnya skala 1 8.000 cm 16 cm 500 = × = × = Ukuran pada
model adalah panjang = 20 cm dan lebar = 16 cm. Luas = panjang ×lebar = 20 cm × 16 cm = 320 cm2. 2. Untuk menjahit
5 karung beras diperlukan benang sepanjang 25 m, maka untuk menjahit 120 karung
beras diperlukan benang sepanjang …. Jawab: Misalkan panjang benang yang
diperlukan untuk menjahit 120 karung beras adalah A. Maka: 5 25 120 A 5A 25 120
5A 3.000 A 600 = ⇔ = × ⇔ = ⇔ =
Ø Himpunan adalah kumpulan
benda-benda atau objek yang mempunyai ciri yang sama. Ø Nama himpunan ditulis dengan nama huruf kapital dan anggotanya
ditulis di antara ku- rung kurawal ({ }). A. ANGGOTA HIMPUNAN Ø Anggota himpunan dilambangkan dengan “
” dan jika bukan anggota dilambangkan dengan “ “. Ø Banyaknya anggota himpunan A dinotasikan dengan n(A). Contoh: 1.
Himpunan bilangan bulat, ditulis: B = {bilangan bulat} = {… , –2, –1, 0, 1, 2,
…} 2. Himpunan bilangan ganjil kurang dari 10, ditulis: A = {bilangan ganjil
kurang dari 10} atau A = {1, 3, 5, 7, 9}, maka 1 A, 3
A, 5 A, 7 A, 9 A
sedang- kan 2 A, 4 A. Banyaknya anggota himpunan A adalah n(A) =
5. B. MENYATAKAN SUATU HIMPUNAN Contoh: A adalah himpunan bilangan genap kurang
dari 15. Ditulis:
1. Menuliskan sifat anggotanya. A = {bilangan genap kurang dari 15} 2.
Memberikan notasi pembentuk himpunan. A = {x | x < 15, x ∈ bilangan genap} Dibaca: “Himpunan A beranggotakan
x, den- gan x kurang dari 15 dan x anggota himpu- nan bilangan genap”. 3.
Menyatakan semua anggotanya. A = {2, 4, 6, 8, 10, 12, 14} C. MACAM-MACAM
HIMPUNAN 1. Himpunan Kosong Himpunan kosong adalah himpunan yang ti- dak
mempunyai anggota. Himpunan kosong dilambangkan dengan { } atau . Contoh: K
himpunan nama hari yang diawali huruf z. Karena tidak ada nama hari yang
diawali huruf z maka K = { }. 2. Himpunan Terhingga Himpunan terhingga adalah
himpunan yang banyak anggotanya terhingga atau terbatas. Contoh: L himpunan
bilangan asli kurang dari 5. Ditu- lis: L = {1, 2, 3, 4} 3. Himpunan Tak
Terhingga Himpunan tak terhingga adalah himpunan yang banyak anggotanya tak terhingga
atau tak terbatas. Contoh: Himpunan bilangan asli. Ditulis: A = {1, 2, 3, 4, …}
4. Himpunan Semesta Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua
anggota himpunan (objek) yang sedang dibicarakan. Notasi “S”. Contoh: M =
{apel, mangga, pisang, stroberi, anggur} Himpunan semesta yang mungkin dari
him- punan di atas adalah: S = {nama buah}. 5. Himpunan Bagian Himpunan bagian
adalah himpunan yang merupakan anggota dari himpunan keselu- ruhan. Himpunan
bagian dilambangkan den- gan “ ”. Ø Himpunan
kosong merupakan himpunan bagian dari setiap himpunan. Ø Setiap himpunan merupakan himpunan bagian dari himpunan itu
sendiri. Diketahui himpunan A dengan banyak ang- gota n(A) maka banyaknya
himpunan bagian yang mungkin dari himpunan itu adalah 2n(A) Contoh: Diketahui
himpunan A = {1, 3, 5} Banyak himpunan bagian yang mungkin dari himpunan A
adalah 2n(A) = 23 = 8 Himpunan bagian dari A adalah A, ∅, {1}, {3}, {5}, {1, 3}, {1, 5}, {3, 5}.
D. DIAGRAM VENN Diagram Venn adalah diagram yang digunakan untuk
menyatakan beberapa himpunan atau hubungan antarhimpunan. Contoh: Buatlah
diagram Venn dari himpunan-himpunan berikut! A = {1, 2, 3, 4, 5}; B = {2, 3, 5,
7} S = {bilangan asli kurang dari 8} Dari soal, diperoleh S = {1, 2, 3, 4, 5,
6, 7} S B A 74 1 6 2 3 5
E. HUBUNGAN ANTARHIMPUNAN 1. Himpunan Ekuivalen Himpunan A ekuivalen
dengan himpunan B jika n(A) = n(B). Contoh: A = {1, 2, 3, 4}; B = {5, 6, 7, 8}
Karena n(A) = n(B) maka himpunan A ekuiva- len dengan himpunan B. 2. Himpunan
Sama Himpunan A dikatakan sama dengan himpu- nan B jika anggota himpunan A sama
den- gan anggota himpunan B atau sebaliknya. Jika himpunan A sama dengan B maka
dapat ditulis A = B. Contoh: A = {a, d,
i} dan B = {i, d, a} A = B.
G. IRISAN DAN GABUNGAN DUA HIMPUNAN Ø Irisan
dua himpunan A dan B adalah himpu- nan yang anggota-anggotanya merupakan
anggota himpunan A sekaligus B. A B = {x | x A dan x B} ∈∈ Ø Gabungan
dua himpunan A dan B adalah himpunan yang anggota-anggotanya me- rupakan
anggota himpunan A saja atau ang- gota B saja. A B = {x | x A atau x B} ∈∈ Irisan dan gabungan dua himpunan dalam dia- gram
Venn. S S
A ∩ B A ∪ B
B A BA
Contoh: Diketahui: A = {bilangan genap kurang dari 11} dan B = {faktor
dari 10}. Tentukan irisan dan gabungan himpunan A dan B! Dari soal diketahui: A
= {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {1, 2, 5, 10}
S S
A ∩ B = {2, 10} dan A ∪ B = {1, 2, 4, 5, 6, 8, 10}
H. SIFAT-SIFAT OPERASI HIMPUNAN 1. Komutatif A B = B A A B = B A
2. Asosiatif ( ) ( ) ( ) ( ) A B C = A B C A B C = A B C 3.
Distributif ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) A B C A B A C A B C A B A C = =
4. Dalil De Morgan ( ) ( ) c c c c c c A B = A B A B = A B
Contoh:
1. Dalam suatu kelas terdapat 40 anak, 24 anak gemar menari, 21 anak
gemar menyanyi, dan 10 anak gemar keduanya. Banyaknya anak yang tidak gemar
keduanya adalah .… Jawab: Misalkan: S = {anak yang ada di kelas}à n(S) = 40 A =
{anak yang gemar menari}à n(A) = 24 B = {anak yang gemar menyanyi} à n(B) = 21
A ∩ B = {anak yang gemar menari dan me-
nyanyi} à n(A ∩ B) = 10
A ∪ B = {anak yang gemar
menari atau me- nyanyi} (A ∪ B)c = {anak
yang tidak gemar menari atau menyanyi} Dengan menggunakan rumus diperoleh:
n(A B)
= n(A) + n(B) - n(A B) = 24 + 21 - 10 = 35 n(S) = n(A B) + n(A
B)c ⇔ 40 = 35 + n(A B)c ⇔ n(A B)c = 5 Jadi, banyaknya anak yang tidak gemar
menari atau menyanyi adalah 5 anak. Dalam diagram Venn dapat digambarkan S B A
2. Diketahui himpunan berikut. A = {b, u, n, d, a} B = {i, b, u, n, d,
a} C = {lima bilangan asli yang pertama} D = {bilangan cacah kurang dari 6}
Jawab: A = {b, u, n, d, a} à n(A) = 5 B
= {i, b, u, n, d, a} à n(B) = 6 C
= {lima bilangan asli yang pertama}
= {1, 2, 3, 4, 5 } à n(C) = 5 D =
{bilangan cacah kurang dari 6} = { 0, 1,
2, 3, 4, 5 } à n(C) = 6 Karena n(A) = n(C) = 5 dan n(B) = n(D) = 6, maka
pasangan himpunan yang ekuivalen adalah A dengan C dan B dengan D.
7 Sudut dan Garis
A. Garis Garis adalah deretan/kumpulan titik-titik yang banyaknya tak
terhingga, yang saling bersebe- lah-an dan memanjang ke dua arah. 1. Dua Garis Berpotongan
Garis g dan
2. Dua Garis Sejajar Garis g dan tidak berpotongan. g l
3. Dua Garis Berimpit Garis g dan mempunyai lebih dari satu titik
potong. g l B. Sudut Sudut adalah daerah yang dibatasi oleh dua buah penggalan
garis lurus yang bertemu pada satu titik pangkal.
Unsur dan nama sudut
Keterangan: O = titik pangkal sudut OA, OB = kaki sudut ∠AOB = sudut
1. Jenis Sudut Berdasarkan Besar Sudut Jenis sudut Gambar Keterangan
Sudut lancip A
O B
Sudut yang besarnya antara 0o dan 90o.
Sudut siku-siku
A
O B
Sudut yang besarnya 90o.
Sudut tumpul A
O B
Sudut yang besarnya lebih dari 90o.
Sudut lurus
A O B
Sudut yang besarnya 180o.
2. Hubungan Antarsudut Ø Dua
sudut berpelurus (bersuplemen) 180o α β
+ =
A
αβ O B Sudut dan berpelurus dan jumlahnya 180o. Ø Dua sudut berpenyiku (berkomplemen)
Sudut dan berpenyiku dan jumlahnya 90o.
90o
α β + =
Contoh: Perhatikan gambar di
bawah. Besar ∠ABD adalah ....
A B C 5xo7 xo
D
Jawab: ∠ABD + ∠BCD =
180° 7x + 5x = 180
12x = 180 x =
15 Besar ∠ABD adalah 7 . 15° =
105°.
Ø Dua sudut bertolak
belakang Dua sudut dan besarnya sama yaitu =
C B Berdasarkan gambar di atas diperoleh: n ∠AOC bertolak
belakang dengan ∠BOD, sehingga ∠AOC = ∠BOD. n ∠AOD bertolak belakang dengan ∠BOC, sehingga
∠AOD = ∠BOC. Ø Sudut-sudut yang terbentuk oleh dua garis
sejajar dipotong sebuah garis
Dua sudut sehadap mempunyai besar sudut yang sama. ∠A1 dengan ∠B1 ∠A2 dengan ∠B2 ∠A3 dengan ∠B3 ∠A4 dengan ∠B4 ∠A1 = ∠B1 ∠A2 = ∠B2 ∠A3 = ∠B3 ∠A4 = ∠B4
Dua sudut dalam
berseberangan mem- punyai besar sudut yang sama. ∠A4 dengan ∠B1 ∠A3 dengan ∠B2,
4 1 A B ∠ = ∠
3 2 A B ∠ = ∠ n Dua
sudut luar berseberangan mem- punyai besar sudut yang sama. ∠A2 dengan ∠B3 ∠A1 dengan ∠B4
2 3 A B ∠ = ∠
1 4 A B ∠ = ∠ n Dua
sudut dalam sepihak jumlah sudutnya
adalah 180o. ∠A4 dengan ∠B2 ∠A3 dengan ∠B1 4 2 180o A
B ∠ +∠ = 3 1 180o A
B ∠ +∠ = n Dua sudut luar sepihak besar jumlah
sudut-nya adalah 180o. ∠A1 dengan ∠B3 ∠A2 dengan ∠B4 1 3 180o A
B ∠ +∠ = 2 4 180o A
B ∠ +∠ = Contoh:
Perhatikan gambar di bawah ini!
Jika besar ∠A1 = 105o maka besar
sudut ∠B4 adalah ….
Jawab: Sudut ∠A1 dan ∠B4 merupakan sudut luar berse- berangan, maka ∠A4 = ∠A1 = 105o
8 Relasi dan Fungsi
A. RELASI Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah pemasangan
anggota himpunan A dengan ang- gota himpunan B. Menyatakan Relasi 1. Diagram
panah Contoh: Diketahui A = {1, 2, 3} dan B = {1, 3, 6}. Maka relasi yaitu
“faktor dari” dari himpunan A ke himpunan B dapat dinyatakan dengan dia- gram
panah sebagai berikut:
Contoh: Diketahui A = {1, 2, 3}
dan B = {1, 3, 6}. Relasi“faktor dari” dari himpunan A ke himpunan B dapat din-
yatakan dalam diagram Cartesius disamping.
3. Himpunan pasangan berurutan Contoh: Diketahui A = {1, 2, 3} dan B =
{1, 3, 6}. Relasi “faktor dari” dari himpunan A ke himpunan B dapat dinyatakan
dalam himpunan pasangan berurutan sebagai berikut. {(1, 1), (1, 3), (1, 6), (2,
6), (3, 3), (3, 6)} B. FUNGSI (PEMETAAN) 1. Pengertian Fungsi (Pemetaan) Fungsi
(pemetaan) dari A ke B adalah suatu relasi yang lebih khusus yang menghubung-
kan setiap anggota A dengan tepat satu ang- gota B. Contoh: A B
Pada contoh, setiap anggota di A dipasang- kan dengan tepat satu
anggota di B. 2. Domain, Kodomain, dan Range Ø domain
adalah daerah asal atau daerah definisi fungsi itu, Ø kodomain adalah daerah kawan, Ø range
atau daerah hasil adalah himpun- an bagian dari daerah kawan atau kodo- main.
- Domain: A = {1, 2, 3} - Kodomain:
B = {1, 4, 8, 9} - Range: {1, 4, 9} 3. Banyak Fungsi (Pemetaan)
Diketahui banyak anggota himpunan A adalah n(A) dan banyak anggota himpunan B
adalah n(B), maka:
Ø Banyak fungsi dari A ke
B = n(B)n(A) Ø Banyak fungsi dari B
ke A = n(A)n(B) Contoh: Diketahui A = {1, 2, 3} dan B = {A, B, C, D}, maka n(A)
= 3 dan n(B) = 4. a. Banyak fungsi yang mungkin dari A ke B = n(B)n(A) = 43 =
64. b. Banyak fungsi yang mungkin dari B ke A = n(A)n(B) = 34 = 81. 4. Notasi
dan Rumus Fungsi Linear a. Notasi fungsi linear Fungsi linear dinotasikan dengan
f : x ax + b x variabel. Keterangan: f = nama fungsi x = anggota daerah asal
ax + b = bayangan dari x
b. Rumus fungsi linear f(x) = ax
+ b x variabel dan f(x) nilai fungsi. Contoh: f(x) = 2x + 1 Nilai fungsi untuk
x = 1 adalah f(1) = (2×1) + 1 = 3 c. Grafik fungsi linear Contoh: Diketahui fungsi f(x) = 2x + 1.
Gambarkan fungsi linear tersebut ke dalam bentuk grafik! Diambil nilai x = 0
dan x = 1. l Untuk x = 0 à y = 2×0 + 1 = 1. Maka, diperoleh koordinat (0, 1) l
Untuk x = 1 à y = 2×1 + 1 = 3. Maka, diperoleh koordinat (1, 3)
Contoh: Diketahui pemetaan f : x
à 2 – 3x. Jika daerah asalnya {–2, –1, 0, 1, 2} maka daerah hasilnya adalah ….
Jawab:
Diketahui pemetaan f : x à 2 – 3x, dengan dae- rah asal {–2, –1, 0, 1,
2}. Maka diperoleh: f : –2 à 2 – (3×(–2))
= 2 + 6 = 8 f : –1 à 2 – (3×(–1)) = 2 +
3 = 5 f : 0 à 2 – (3×0) = 2 – 0 = 2 f :
1 à 2 – (3×1) = 2 – 3 = –1 f : 2 à 2 – (3×2) = 2 – 6 = –4 Daerah hasilnya
adalah {–4, –1, 2, 5, 8}. C. KORESPONDENSI SATU-SATU 1. Pengertian
Korespondensi Satu-satu Himpunan A dikatakan berkorespondensi satu-satu dengan
himpunan B jika setiap anggota A dipasangkan dengan tepat satu anggota B dan
setiap anggota B dipasang- kan dengan tepat satu anggota A. Dengan demikian,
pada korespondensi satu-satu dari himpunan A ke himpunan B, banyak anggota
himpunan A dan himpunan B harus sama. 2. Banyak Korespondensi Satu-satu
Diketahui n(A) = n(B) = n. Maka banyaknya korespondensi satu-satu yang mungkin
an- tara himpunan A dan B adalah 1 2 3 ... (n 1) n × × × × - ×
Contoh: Diketahui himpunan A = {1, 2, 3} dan B = {a, b, c}. Banyaknya
korespondensi satu- satu yang mungkin untuk himpunan A dan B adalah 1 2 3 × × =
6.
9 Persamaan Garis Lurus
Bentuk umum persamaan garis lurus: y = mx + c Keterangan: m = gradien c
= konstanta Persamaan garis dapat dinyatakan dalam berb- agai bentuk dan
variabel. Contoh: y = 3x + 1 dan a = b + 2 A. GRADIEN Gradien (m) adalah nilai
yang menyatakan ke- miringan suatu garis. 1. Garis melalui dua titik A(x1, y1)
dan B(x2, y2)
2. Gradien dua garis sejajar Garis g sejajar dengan garis h. Jika
gradien garis h adalah mh, maka gradien garis g adalah
g h m m =
3. Gradien dua garis tegak lurus
g h m m 1 × = - atau g
h 1m m -= B. RUMUS PERSAMAAN GARIS 1. Persamaan garis yang melaui titik
A(x1, y1) dan bergradien m.
Contoh: 1. Gradien garis yang tegak lurus dengan garis h : 3x – 6y + 4 = 0 adalah …. Jawab:
1 2 2 3
3x 6y 4 0 6y 3x 4 y x - + = ⇔ - = - - ⇔ = + Gradien garis h adalah mh = ½. Misalkan garis
yang ditanyakan adalah garis g, maka gradien garis g adalah
g 1 2h 1 1 m 2 m = - = - = - . 2. Persamaan garis yang melalui titik
A(2, 3) dan se- jajar dengan garis 3x + 5y = 15 adalah .… Jawab: 3x + 5y = 5 ⇔ y = 3 5 - x + 3 Gradien garis tersebut adalah m =
3 5 - . Karena garis yang dicari sejajar dengan garis 3x + 5y = 15, maka
gradiennya juga m = 3 5 - . Karena melalui titik A(2, 3), maka persamaan
garisnya adalah ( ) ( ) 1 1 y y m x x 3 y 3 x 2 5 - = - ⇔ - = - - 3 6y 3 x 5 5 5y 15 3x 6 3x 5y 21 ⇔ - = - + ⇔ - = - + ⇔ + =
10 Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Ø Persamaan linear dua
variabel adalah suatu persamaan yang variabelnya berpangkat (berderajat) paling
tinggi 1 (satu) dan mem- punyai dua variabel. Contoh: 3x + 2y =3 Ø Sistem
persamaan linear dengan dua varia- bel adalah suatu sistem persamaan yang
terdiri atas dua persamaan linear di mana masing-masing persamaan mempunyai dua
variabel dan sistem tersebut mempunyai te- pat satu penyelesaian. Bentuk Umum
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
1 1 1
2 2 2 a x + b y = c a x + b y = c dengan x dan y adalah variabel.
Menentukan Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Contoh: Carilah
penyelesaian dari persamaan: y = 2x 2x + y = 8 Untuk menentukan
penyelesaian dari sistem pers-
amaan linear dua variabel tersebut dapat dilaku- kan dengan metode
berikut.
1. Substitusi Substitusikan persamaan y = 2x ke dalam persamaan 2x + y
= 8, diperoleh: 2x + y = 8 ⇒ 2x + 2x = 8
4x = 8 x =
2 Substitusikan x = 2 ke persamaan y = 2x, diperoleh: x = 2 à y = 2x = 2 × 2 =
4 Jadi, penyelesaiannya adalah x = 2 dan
y = 4.
2. Eliminasi Untuk menentukan nilai y maka x dieliminasi dengan cara: x
+ y = 3 ×2 2x + 2y = 6 2x − y = 0 ×1 2x − y
= 0 3y = 6
y = 2 −
Untuk menentukan nilai x maka y dieliminasi dengan cara: x + y = 3 2x
− y = 0
3x = 3 ⇔ x = 1 + Jadi, penyelesaiannya adalah x = 1 dan y = 2.
3. Grafik l Menentukan
titik potong garis x – y = 1 dengan
sumbu x dan y. Jika x = 0 maka y = –1. Jika y = 0 maka x = 1. Jadi, persamaan
garis x – y = 1 melalui titik (0, –1)
dan (1, 0). l Menentukan titik potong garis x + 2y = 4 dengan sumbu x dan y.
Jika x = 0 maka y = 2. Jika y = 0 maka x = 4. Jadi persamaan garis x + 2y = 4
melalui (0, 2) dan (4, 0). Gambar grafiknya: y
x
x − y = 1
(4, 0)
(0, 0) (0, −1)
(2, 1)(0, 2)
Berdasarkan gambar grafik tersebut, titik potong garis x – y = 1 dan x
+ 2y = 4 adalah titik (2, 1). Jadi penyelesaiannya adalah x = 2 dan y = 1.
Contoh: Harga 2 kg salak dan 3
kg jeruk adalah Rp32.000,00, sedangkan harga 3 kg salak dan 2 kg jeruk adalah
Rp33.000,00. Harga 1 kg salak dan 5 kg jeruk adalah .... Jawab: Harga 2 kg
salak dan 3 kg jeruk adalah Rp32.000,00, sedangkan harga 3 kg salak dan 2 kg
jeruk adalah Rp33.000,00. Dari permasalahan di atas, dapat diperoleh sistem
persamaan linear berikut. Misalkan: harga 1 kg salak dilambangkan s; harga 1 kg jeruk dilambangkan j. Diperoleh:
2s + 3j = 32.000 |× 3| 6s + 9j = 96.000
3s + 2j = 33.000 |× 2| 6s + 4j =
66.000 – 5j
= 30.000 j = 6.000 Bila harga 1 kg jeruk adalah Rp6.000,00
maka: 2s + 3 . Rp6.000,00 = Rp32.000,00 2s + Rp18.000,00 = Rp32.000,00 2s
= Rp14.000,00 s = Rp7.000,00 Harga 1 kg salak dan 5 kg jeruk
adalah = Rp7.000,00 + 5 . Rp6.000,00 = Rp37.000,00.
11 Segitiga dan Teorema Pythagoras
Segitiga adalah bangun yang dibatasi oleh tiga ruas garis dan mempunyai
tiga titik sudut.
Keterangan: Ø Gambar di atas
merupakan segitiga ABC yang dibatasi oleh ruas garis AB = c, BC = a, AC = b dan
mempunyai tiga titik sudut, yaitu sudut A ( A ∠ ), sudut B ( B ∠ ), dan sudut
C ( C ∠ ). Ø Lambang
sebuah segitiga biasanya dinotasikan dengan ∆ . Jadi, segitiga ABC dapat
ditulis dengan ABC ∆ . Ø Jumlah
sudut-sudut suatu segitiga adalah 180o. Jadi, oA B C 180 ∠ +∠ +∠ = . A. JENIS-JENIS SEGITIGA 1. Jenis Segitiga
Ditinjau dari Panjang Sisi- sisinya
Segitiga sama kaki
Panjang AC = BC. A ∠ = B ∠ . Mempunyai satu simetri lipat yaitu CD, tetapi tidak mempunyai
simetri putar.
Segitiga sama sisi
Panjang AB = BC = AC. A
∠ = B ∠ = C ∠ = 60o. Mempunyai
tiga simetri lipat yaitu AE, BF, dan CD, serta mempunyai tiga simetri putar.
Segitiga sembarang
Panjang AB ≠ BC ≠ AC. A
∠ ≠ B ∠ ≠ C∠ . 2. Jenis Segitiga Ditinjau dari Besar Sudutnya
a. Segitiga siku-siku, segitiga yang besar salah satu sudutnya 90o. b. Segitiga
lancip, segitiga yang besar tiap- tiap sudutnya kurang dari 90o. c. Segitiga
tumpul, segitiga yang besar salah satu sudutnya lebih dari 90o. B. MACAM-MACAM
GARIS PADA SEGITIGA Garis AE, BF, dan CD merupakan garis tinggi segitiga ABC.
Titik tinggi ABC ∆ di samping adalah titik O. A B D EF C Garis AE, BF, dan CD
merupakan garis bagi segitiga ABC. Titik bagi ABC ∆ di samping adalah titik O.
A B C F D E
Garis AE, BF, dan CD merupakan garis berat segitiga ABC. Titik berat
ABC ∆ di samping adalah titik O.
Garis TE, TF, dan TD merupakan garis sumbu segitiga ABC. Titik sumbu
ABC∆ di samping adalah titik T.
C. KELILING DAN LUAS SEGITIGA Perhatikan gambar di bawah ini!
t = tinggi a = alas
Keliling segitiga ABC: K = AB + BC + AC Luas segitiga ABC: 1 1 L = alas
tinggi = a t 2 2 × × × × ( )( )( ) L = s s a s b s c - - - , dengan 1s =
(a + b + c) 2 .
D. TEOREMA PYTHAGORAS Teorema Pythagoras: Pada segitiga siku-siku,
berlaku kuadrat sisi mir- ing sama dengan jumlah kuadrat kedua sisi pe- nyikunya.
Perhatikan gambar berikut!
Teorema Pythagoras untuk segitiga ABC dirumuskan dengan: ( ) ( ) ( ) 2
2 2 BC AB AC = + 1. Tripel Pythagoras Tripel Pythagoras adalah tiga pasang
bilang- an yang memenuhi teorema Pythagoras. Misalkan untuk segitiga siku-siku
ABC di atas, tripel Pythagorasnya adalah
Tripel tersebut berlaku juga untuk kelipatan- nya. Misalnya: 6, 8, 10
merupakan kelipatan dari 3, 4, 5. Maka 6, 8, 10 juga merupakan tripel
Pythagoras AB AC BC 3 4 5 5 12 13 7 24 25 8 15 17 11 60 61 20 21 29 2. Jenis Segitiga Berdasarkan Ukuran Sisi-
sisinya 2 2 2 a b c = + ABC ∆ segitiga
siku-siku. 2 2 2 a b c < + ABC ∆
segitiga lancip. 2 2 2 a b c > + ABC
∆ segitiga tumpul.
Contoh: 1. Sebuah segitiga panjang alasnya adalah 6 cm dan tingginya 10
cm. Luas segitiga itu adalah … cm2. Jawab: Diketahui: alas = 6 cm, tinggi = 10
cm Luas segitiga: 21 1 L = alas tinggi = 6 10 = 30 cm 2 2 × × × × 2. Sebuah
segitiga ABC siku-siku di A. Jika AB = 12 cm, dan AC = 16 cm maka panjang BC
adalah …. Jawab:
12 cm
16 cm
Diketahui segitiga ABC siku- siku di A, dengan panjang AB = 12 cm dan
AC = 16 cm.
Dengan menggunakan teorema Pythagoras di- peroleh panjang BC, yaitu: (
) ( ) ( ) 2 2 2 2 2 BC AB AC 12 16 144 256 400 BC 400 20 cm = + = + = + = = =
3. Pada segitiga ABC diketahui panjang sisi-sisi a : b : c = 5 : 7 : 8.
Jika keliling segitiga ABC 200 cm maka panjang sisi AC adalah … cm. Jawab:
Misalkan: a = 5x, b = 7x, c = 8x a
+ b + c = 200 5x + 7x + 8x = 200 20x = 200 x = 10 cm Panjang AC = b = 7x = 7.10
cm = 70 cm.
12 Bangun Datar
Persegi adalah bangun datar yang dibatasi oleh 4 buah sisi yang
panjangnya sama.
Keterangan: Ø Mempunyai 4 buah
sisi yang sama panjang: AB = BC = CD = DA. Ø Mempunyai
2 pasang sisi yang saling sejajar: AB sejajar CD dan AD sejajar BC. Ø Mempunyai 4 buah sudut siku-siku (besarnya
90o). ∠A + ∠B + ∠C + ∠D = 90o Ø Mempunyai 4
sumbu simetri lipat dan 4 simetri putar. Ø Mempunyai 2 garis diagonal yang saling berpotongan tegak lurus
yang sama panjangnya. AC = BD dan
AC BD. Ø Mempunyai
8 cara untuk dipasangkan menempati bingkainya. Keliling dan Luas Persegi
Misalkan AB = BC = CD = AD = sisi = s Keliling persegi = 4s Luas persegi = s2
B. PERSEGI PANJANG Persegi panjang adalah bangun datar yang diba- tasi oleh 4
buah sisi dengan sisi-sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar, serta
sisi-sisi yang bersebelahan saling tegak lurus.
Keterangan: Ø Mempunyai 4 buah
sisi dengan sisi-sisi yang berhadap- an sama panjang: AB = CD dan AD = BC. Ø Mempunyai 2 pasang sisi yang saling
sejajar: AB sejajar CD dan AD sejajar BC. Ø Mempunyai
4 buah sudut siku-siku (besarnya 90o). ∠A + ∠B + ∠C + ∠D = 90o. Ø Mempunyai 2 buah sumbu simetri lipat dan 2
buah simetri putar. Ø Mempunyai 2 garis
diagonal yang saling berpotongan yang panjangnya sama: AC = BD. Ø Mempunyai 4 cara untuk dipasangkan menempati
bingkainya. Keliling dan Luas Persegi Panjang AB = CD = panjang = p dan BC = AD
= lebar = Keliling = 2 × (panjang + lebar)
= ( ) 2 p × + Luas = panjang × lebar
= p×
C. JAJARGENJANG Jajargenjang adalah bangun datar yang dibatasi oleh 4
buah sisi, dengan sisi-sisi yang saling ber- hadapan sama panjang dan sejajar.
Sisi yang sa- ling bersebelahan tidak saling tegak lurus.
Keterangan: Ø Mempunyai 4 buah
sisi dengan sisi-sisi yang berhadapan sama panjang: AB = CD dan AD = BC. Ø Mempunyai 2 pasang sisi yang saling
sejajar: AB sejajar CD dan AD sejajar BC. Ø Mempunyai
4 buah sudut dengan susut-sudut yang berhadapan sama besar: ∠A = ∠C dan ∠B = ∠D. Ø Jumlah dua sudut yang berdekatan
adalah 180o. ∠A + ∠B = ∠B + ∠C = ∠C + ∠D = ∠A + ∠D = 180o. Ø Mempunyai
2 buah simetri putar tetapi tidak mempunyai simetri lipat. Ø Mempunyai 2 garis diagonal yang saling
berpotongan di titik O yang panjangnya tidak sama. Diagonal-diagonal tersebut
saling membagi sama panjang. AO = OC dan OB = OD. Ø Mempunyai 2 cara untuk dipasangkan menempati bingkainya.
Keliling dan Luas Jajargenjang AB = CD = panjang = p dan BC = AD = lebar = .
Keliling = 2 × (panjang + lebar)
= ( ) 2 AB AD × + Luas = panjang × tinggi = AB × t
Belah ketupat adalah ba- ngun datar yang dibatasi oleh 4 buah sisi yang
pan- jangnya sama, sisi-sisi yang saling berhadapan sa- ling sejajar, dan
sisi-sisinya tidak saling tegak lurus.
Keterangan: Ø Mempunyai 4 buah
sisi yang sama panjang: AB = BC = CD = DA. Ø Mempunyai
dua pasang sisi yang saling sejajar: AB sejajar CD dan AD sejajar BC. Ø Mempunyai 4 buah sudut dengan
susut-sudut yang berhadapan sama besar: ∠A = ∠C dan ∠B = ∠D. Ø Jumlah dua sudut yang berdekatan adalah
180o. ∠A + ∠B = ∠B + ∠C = ∠C + ∠D = ∠A + ∠D = 180o. Ø Mempunyai 2 sumbu simetri lipat dan 2
simetri putar. Ø Mempunyai 2 garis
diagonal yang saling berpotongan tegak lurus (AC BD), tetapi panjangnya berbeda.
Diagonal-diagonal tersebut saling membagi sama panjang. AO = OC dan OB = OD. Ø Mempunyai empat cara untuk dipasangkan
menempati bingkainya. Keliling dan Luas Belah Ketupat Misalkan AB = BC = CD =
AD = s Keliling = AB + BC + CD + AD = 4s
Luas = 1 2 d1 d2
Dengan: d1 = diagonal 1 = AC d2 = diagonal 2 = BD
Layang-layang adalah ba- ngun datar segi empat yang dibentuk oleh dua
segitiga sama kaki dengan alas yang sama
panjang dan berimpit.
Keterangan: Ø Mempunyai dua pasang
sisi yang sama panjang: AB = AD dan BC =
CD. Ø Dibentuk oleh 2 buah segitiga
sama kaki, yaitu: segitiga ABD dan segitiga CDB. Ø Mempunyai 4 buah sudut yang sepasang sudutnya sama besar (∠B = ∠D) dan
sepasang lainnya tidak. Ø Mempunyai
1 buah sumbu simetri lipat, yaitu AC. Ø Mempunyai
2 garis diagonal yang saling berpotongan tegak lurus (AC BD), tetapi panjangnya berbeda. Diagonal AC
membagi diagonal BD sama panjang (OB = OD). Ø Mempunyai
2 cara untuk dipasangkan menempati bingkainya. Keliling dan Luas Layang-layang
AB = AD = sisi pendek; BC = CD = sisi panjang Keliling = ( ) 2 AB BC × + Luas =
1 2 d1
d2
Dengan: d1 = diagonal 1 = AC d2 = diagonal 2 = BD
F. TRAPESIUM Trapesium adalah segi empat dengan sepasang sisi yang
berhadapan sejajar.
Jenis-jenis Trapesium a. Trapesium siku-siku b. Trapesium sama kaki c.
Trapesium sembarang Keliling dan Luas Trapesium
Keliling = AB + BC + CD + AD Luas = ( ) 1 AB CD t 2 × + ×
AB dan CD merupakan dua sisi sejajar.
Contoh: 1. Jika luas luas ja-
jargenjang 96 cm2 maka DE : DF adalah ….
12 cm
8 cm
Jawab: Luas jajargenjang ABCD = AB×DE … (i) Luas jajargenjang ABCD = BC×DF … (ii)
Dengan menggunakan (i) diperoleh: Luas jajargenjang ABCD = AB×DE 96 12
DE 96 DE 8 cm 12 ⇔ = × ⇔ = = Dengan menggunakan (ii) diperoleh: Luas
jajargenjang ABCD = BC×DF 96 9 DF 96 32 DF cm 9 3 ⇔ = × ⇔ = = DE 8 3 32 DF 4 3 = =
2. Diketahui belah ketupat ABCD dengan pan- jang diagonalnya masing-masing
adalah AC = 24 cm dan BD = 18 cm. Keliling belah ketu- pat tersebut adalah ….
Jawab: Salah satu sifat belah ketupat adalah keem- pat sisinya sama panjang. Maka:
A. KESEBANGUNAN BANGUN DATAR
1. Dua Bangun Datar yang Sebangun
Syarat: a. Panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada bangun-bangun tersebut
memiliki per- bandingan yang senilai. b. Sudut-sudut yang bersesuaian pada ba-
ngun-bangun tersebut sama besar.
Besar sudut-sudut pada persegi panjang ABCD dan persegi panjang PQRS.
Kedua bangun tersebut merupakan ban- gun persegi panjang, sehingga setiap
sudutnya merupakan sudut siku-siku. Di- peroleh: ∠A = ∠P; ∠C = ∠R; ∠B = ∠Q; ∠D = ∠S Dengan
demikian, karena kedua syarat di- pernuhi, maka persegi panjang ABCD se- bangun
dengan persegi panjang PQRS. 2. Dua
Segitiga yang Sebangun Syarat: a. Panjang sisi-sisi yang bersesuaian memiliki
perbandingan yang sama. Syarat ini dising- kat s.s.s (sisi-sisi-sisi). b.
Sudut-sudut yang bersesuaian sama besar. Syarat ini disingkat sd.sd.sd
(sudut-sudut- sudut). c. Dua sisi yang bersesuaian memiliki perband- ingan yang
sama dan sudut bersesuaian yang diapit sama besar. Syarat ini disingkat s.sd.s
(sisi-sudut-sisi). Kesebangunan dinotasikan dengan “ ~ “.
B. KEKONGRUENAN BANGUN DATAR Dua
benda atau lebih yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama disebut kongruen.
Kekongru- enan dinotasikan dengan lambang “ “. 1. Dua Bangun Datar yang Kongruen Dua bangun
atau lebih dikatakan kongruen jika bangun-bangun tersebut memiliki bentuk dan
ukuran yang sama serta sudut-sudut yang ber- sesuaian sama besar.
Dua Segitiga yang Kongruen Bila dua buah segitiga kongruen maka dua
segi- tiga tersebut dapat saling menutupi secara tepat. Dua buah segitiga
dikatakan kongruen bila me- menuhi syarat-syarat berikut.
a. Sisi-sisi yang bersesuaian sama panjang, disingkat s.s.s
(sisi-sisi-sisi). b. Dua sisi yang bersesuaian sama panjang dan satu sudut yang
diapit oleh kedua sisi tersebut sama besar, disingkat s.sd.s (sisi-
sudut-sisi). c. Dua sudut yang bersesuaian sama besar dan satu sisi yang
bersesuaian sama panjang, disingkat sd.s.sd (sudut-sisi-sudut).
A. UNSUR-UNSUR LINGKARAN
Juring TemberengApotema Lingkaran adalah tempat kedudukan titik-titik
yang berjarak sama terhadap satu titik tetap yang dise-but titik pusat
lingkaran. Unsur-unsur pada lingkaran adalah sebagai berikut. Ø Titik O disebut pusat lingkaran Ø Garis OA = OB = OD disebut jari-jari
lingkaran dan dilambangkan dengan r. Ø Garis
AB disebut diameter dan dilambangkan dengan d. Ø Garis lurus AD disebut tali busur. Ø Garis lengkung AD dan BD
disebut busur dan dilambangkan dengan AD dan BD . Ø Garis OE disebut apotema. Ø Daerah
yang dibatasi oleh dua jari-jari dan satu busur disebut juring. Misalnya: BOD.
Ø Daerah yang dibatasi oleh sebuah tali
busur dan busur disebut tembereng. Pada gambar, tembereng adalah daerah yang
diarsir.
B. KELILING DAN LUAS LINGKARAN Keliling lingkaran: K = 2r = d p p
C. PANJANG BUSUR DAN LUAS JURING
o AOD Panjang busur AD keliling lingkaran 360 ∠ = ×
o AOD Luas juring AOD luas lingkaran 360 ∠ = × Luas tembereng = L.juring AOD – L. ∆ AOD Hubungan antara sudut
pusat, panjang busur, dan luas juring.
o AOD panjang busur AD luas juring AOD keliling lingkaran luas
lingkaran360 ∠ = = Hubungan antara
sudut pusat, panjang busur, dan luas juring. AOD panjang busur AD luas juring
AOD BOD panjang busur BD luas juring BOD ∠ = = ∠ D. SUDUT PUSAT DAN SUDUT
KELILING Besar sudut pusat adalah dua kali besar sudut keliling yang menghadap
busur yang sama.
C Pada gambar, AOB adalah sudut pusat dengan sudut kel- ilingnya salah
satunya adalah ACB. Hubungan sudut pusat dan sudut keliling dapat dituliskan:
AOB 2 ACB ∠ = ×∠ Besar dua sudut keliling yang menghadap busur yang
sama adalah sama.
E. SEGI EMPAT TALI BUSUR DAN SUDUT AN- TARA DUA TALI BUSUR Segi empat
tali busur adalah segi empat yang di- batasi oleh empat tali busur di mana
keempat titik sudutnya terletak pada lingkaran.
GARIS SINGGUNG LINGKARAN Garis singgung lingkaran adalah garis yang
memotong lingkaran di satu titik dan tegak lurus dengan jari-jari yang melalui
titik singgungnya. 1. Garis Singgung Persekutuan Dalam Dua Lingkaran
A. KUBUS
Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam buah bidang
sisi yang kongruen berbentuk persegi. Keterangan: Ø Mempunyai 8 buah titik sudut, yaitu: A, B, C, D, E, F, G, dan H. Ø Mempunyai 6 buah sisi yang kongruen
berbentuk persegi, yaitu: ABCD, ABFE, BCGF, CDHG, ADHE, dan EFGH. Ø Mempunyai 12 buah rusuk yang sama panjang,
yaitu: AB, BC, CD, AD, BF, CG, AE, DH, EF, FG, GH, dan HE. Ø Mempunyai 12 buah diagonal sisi (bidang)
yang sama panjang, yaitu: AC, BD, BG, CF, CH, DG, AH, DE, EG, dan FH. Ø Mempunyai 4 buah diagonal ruang,
yaitu: HB, DF, CE, dan AG. Luas dan Volume Kubus Pada kubus dengan rusuk s,
maka: Luas permukaan: L = 6s2 Volume: V = s3 Rumus-rumus pada kubus: Jumlah
panjang rusuknya = 12s Panjang diagonal sisi = s 2 Panjang diagonal ruang = s 3
Balok adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh 6 buah persegi
panjang yang terdiri dari 3 pasang persegi panjang yang kongruen. Keterangan: Ø Mempunyai 8 buah titik sudut, yaitu: A,
B, C, D, E, F, G, dan H. Ø Mempunyai 6
buah sisi yang berbentuk persegi panjang yang terdiri dari 3 pasang persegi
panjang yang kongruen, yaitu: ABCD dan EFGH,
ABFE dan CDHG, serta BCGF dan ADHE. Ø Mempunyai
12 buah rusuk yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok rusuk-rusuk yang sama dan
sejajar, yaitu: AB = CD = EF = GH = panjang = p, BC = AD = FG = EH = lebar = ,
AE = BF = CG = DH = tinggi = t. Ø Mempunyai
12 buah diagonal sisi (bidang), yaitu: AC, BD, BG, CF, CH, DG, AH, DE, EG, dan
FH. Ø Mempunyai 4 buah diagonal ruang
yang sama panjang, yaitu: HB, DF, CE, dan AG. Luas dan Volume Balok Luas
permukaan: L = 2×((p× )+(p×t)+( ×t))
Volume: V = p × ×t Jumlah panjang rusuknya = 4 (p + + t) Panjang diagonal
sisi depan = 2 2 p t + Panjang diagonal sisi samping = 2 2 t+ Panjang diagonal
sisi alas = 2 2 p + Panjang diagonal ruang = 2 2 2 p t + +
C. PRISMA Prisma adalah bangun ruang yang dibatasi oleh 2 buah bidang
berbentuk segi banyak sejajar serta dibatasi oleh sisi-sisi tegak yang
berbentuk segi empat. Macam-macam prisma. 1. Prisma segitiga (gambar 1). 2.
Prisma segi empat (gambar 2). 3. Prisma segi-n (gambar 3 – prisma segi-5).
Luas dan Volume Prisma
Luas permukaan: L = (2 L.alas) +
L. sisi tegak Volume: V = luas alas
tinggi D. LIMAS Limas adalah bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah alas
berbentuk segi-n dan sisi sam-ping berupa segitiga yang bertemu di satu titik.
Luas dan Volume Limas Luas permukaan: L = L.alas + L.sisi miring
Volume: ( ) 1 V = luas alas tinggi 3 × ×
E. TABUNG
Tabung adalah bangun ruang berbentuk prisma tegak ber- aturan yang alas
dan tutupnya berupa lingkaran.
Keterangan: Ø Mempunyai 3 buah
bidang sisi, yaitu bidang alas, bidang tutup, dan sisi tegak. Ø Bidang alas dan bidang tutup berbentuk
lingkaran. Ø Sisi tegak berupa bidang
lengkung dan disebut selimut tabung. Ø Mempunyai
2 buah rusuk. Ø Tinggi tabung
adalah jarak antara titik pusat lingkaran alas dengan titik pusat lingkaran
tutup. Ø Jari-jari lingkaran alas
dan tutup besarnya sama. Luas dan Volume Tabung
Luas permukaan: Luas = 2.luas
alas + luas selimut = 2pr2 + 2prt =2pr(r + t) Volume: V = luas alas × tinggi =
pr2t
F. KERUCUT
Kerucut adalah bangun ruang berbentuk limas dengan alas- nya berbentuk
lingkaran.
Keterangan: Ø Mempunyai 2 buah
bidang sisi, yaitu bidang alas dan bidang lengkung yang disebut selimut
kerucut. Ø Mempunyai sebuah rusuk dan
sebuah titik sudut Ø Tinggi
kerucut adalah jarak antara puncak kerucut dengan titik pusat lingkaran alas.
Luas dan Volume Kerucut Diketahui 2 2 s r t = + , maka: Luas permukaan:
Luas = luas alas + luas selimut = pr2 + prs =pr(r + s) Volume:
2 1 1 V = luas alas tinggi = r t
3 3 × × p G. BOLA
Bola adalah bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah bidang sisi yang
berbentuk lengkung.
Keterangan: Ø Mempunyai sebuah
bidang sisi lengkung. Ø Tidak mempunyai
rusuk dan tidak mempunyai titik sudut. Ø Jari-jari
bola adalah r.
Luas dan Volume Bola Luas permukaan: 2 L = 4 r p Volume: 3 4 V = r 3 p
16 Statistika dan Peluang
A. Statistika Statistik adalah
pengetahuan yang berhu- bungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengolahan
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpul- an data yang
dilakukan. Data adalah suatu
informasi yang diperoleh dari pengamatan atau penelitian. Macam-macam data. 1.
Data kuantitatif adalah data berupa angka. Contoh: data nilai matematika siswa
SMP. 2. Data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan kategori yang
berupa kata-kata (bukan angka). Contoh: data tentang warna favorit.
1. Penyajian Data Data dapat disajikan dengan: a. Tabel Frekuensi b.
Diagram Batang c. Diagram Garis d. Diagram Lingkaran e. Piktogram
b) Kuartil (Q) adalah aturan membagi data menjadi 4 bagian. Q1 =
kuartil pertama (bawah) Q2 = kuartil kedua (median) Q3 = kuartil ketiga (atas)
Contoh: 4 5 6 7 8 9 Q1 Q2 Q3
c. Ukuran Penyebaran Data Jangkauan data (range) Range = data terbesar
– data terkecil Jangkauan kuartil (hamparan) H = Q3 – Q1
B. Peluang 1. Ruang Sampel dan
Titik Sampel Percobaan adalah
usaha yang memun- culkan kemungkinan-kemungkinan ter- tentu. Ruang sampel adalah himpunan semua
hasil yang mungkin terjadi dari suatu per- cobaan. Titik sampel adalah semua anggota ru- ang sampel. Banyaknya anggota ruang sampel dino- tasikan
dengan n(S). Contoh: Pada percobaan melempar sebuah dadu, di- peroleh: n Titik sampelnya adalah 1, 2, 3, 4, 5,
dan 6. n Himpunan ruang sampel,
yaitu: S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} à n(S) =
6. Menentukan Ruang Sampel Suatu Percobaan Untuk menentukan ruang sampel suatu
perco- baan dapat dilakukan dengan cara: a. membuat tabel, b. membuat diagram
pohon.
a. Membuat tabel Mata uang ke- Titik sampel1 2 A A G G A G A G AA AG GA
GG A = muncul angka dan G = muncul
gambar Misalkan, titik sampel AA berarti uang ke-1 muncul angka dan uang ke-2
muncul angka. Ruang sampelnya adalah S = {AA, AG, GA, GG} dan n(S) = 4. b.
Membuat diagram pohon → → → → A AA A G AG A GA G G GG Ruang sampelnya
adalah S = {AA, AG, GA, GG} dan n(S) = 4. 2. Peluang Suatu Kejadian Peluang
suatu kejadian adalah perbandin- gan antara banyaknya kejadian yang diamati
dengan banyaknya kejadian yang mungkin. Rumus: ( )( ) ( ) = n AP A n S
Keterangan: P(A) = nilai peluang munculnya kejadian A. n(A) = banyaknya
kejadian A.
3. Frekuensi Harapan (Ekspektasi) Misalkan A adalah sebuah kejadian
pada ruang sampel S dari suatu percobaan. Jika percobaan tersebut dilakukan
sebanyak n kali, maka frekue- nsi harapan kejadian A atau E(A) dari n kali per-
cobaan dirumuskan: ( ) ( ) = × E A n P A Keterangan: E(A) = frekuensi harapan A
P(A) = nilai peluang munculnya kejadian A
A. PENGERTIAN POLA BILANGAN Pola bilangan adalah aturan terbentuknya
se- buah kelompok bilangan dengan suatu aturan yang telah diurutkan. 1. Pola
bilangan asli: 1, 2, 3, 4, 5,… Pola bilangan: n, n bilangan asli 2. Pola
bilangan genap: 2, 4, 6, 8,… Pola bilangan: 2n, n bilangan asli. 3. Pola
bilangan ganjil: 1, 3, 5, 7,… Pola
bilangan: 2n –1 , n bilangan asli. 4. Pola bilangan persegi: 12, 22, 32, 42,…
Pola bilangan: n2, n bilangan asli. 5. Pola bilangan segitiga: 1, 3, 6,
10,…
Pola bilangan: 12n(n + 1), n bilangan asli. 6. Pola bilangan persegi
panjang: 2, 6, 12, …
Pola bilangan: n(n + 1), n bilangan asli.
7. Pola bilangan segitiga Pascal 1 1 1 21 1 1 1 3 4 3 6 1 4 1 Pola
bilangan: 2n–1, n bilangan asli. B. BARISAN DAN DERET 1. Aritmatika Barisan
aritmatika adalah barisan bilangan yang mempunyai beda suku yang berde-ka- tan
sama. Deret arimatika merupakan jumlah suku-su- ku pada barisan aritmatika.
Beda = U2 – U1 = U3 – U2 = … = Un – Un–1 Suku ke-n barisan dan jumlahan n suku
deret aritmatika dicari dengan rumus: Un = a + (n – 1)b
n 1 n 1 S (U U ) 2 = + atau ( ) n 1 S 2a (n 1)b 2 = + - Keterangan: a =
suku pertama b = beda Un = suku ke-n, dengan n = 1, 2, 3, …. Sn = jumlah n suku
bilangan, dengan n = 1, 2, 3, …. 2. Geometri Barisan geometri adalah suatu
barisan bi- langan yang mempunyai rasio suku yang berdekatan sama. Deret
geometri merupakan jumlah suku-suku pada barisan geometri.
Rasio = 3 2 n 1 2 n 1 U U U ... U U U - = = = . Suku ke-n barisan dan
jumlah n suku geome- tri dicari dengan rumus: Un = arn – 1 n
A. Bilangan Berpangkat Definisi:
an = a × a × ... × a n faktor
1. Bilangan Berpangkat Sebenarnya Bilangan berpangkat sebenarnya adalah
bi- langan yang diperoleh dengan melakukan perkalian berulang. Contoh: 83, 108,
122. 2. Bilangan Berpangkat Tak Sebenarnya Bilangan berpangkat tak sebenarnya
adalah bilangan berpangkat yang tidak dapat di- peroleh dengan perkalian
berulang.
Contoh: 2–5,
3 264 ,
1 26 , 70. Sifat-sifat perpangkatan bilangan. 1. (a × b)p = ap + bp 2.
ap × bq= ap + q 3. ap : aq = ap – q 4.
(ap)q = apq 5. a0 = 1, dengan a adalah bilangan real. 0a = 0 00 = tidak
terdefinisikan
Catatan: (–a)p = ap, untuk p bilangan genap, (–a)p = –(ap), untuk p
bilangan ganjil, ( ) 1- =p pa a Contoh: Hasil dari 8–5 × 8–2 adalah.... Jawab:
Menggunakan sifat pemangkatan: 8–5 × 8–2 = 8–5 + (–2) = 8–7 B. Bentuk Akar 1. Bilangan Rasional Bilangan
rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan ke dalam bentuk a b dengan a, b
merupakan anggota bilangan bulat, dan b ≠ 0. Contoh: 1 3 9 , , 2 5 2 - .
Sifat-sifat yang berlaku pada bilangan bulat berpangkat bilangan bulat berlaku
juga pada bilangan rasional berpangkat bulat. Contoh: 3 4 64 = 5 125
2. Bilangan Irasional Bilangan irasional adalah bilangan yang
tidak dapat dinyatakan ke dalam bentuk a b dengan a, b merupakan
anggota bilangan bulat, dan b ≠ 0. Contoh: 3, 7, 5. Bentuk bilangan seperti 3,
7, 5 disebut bentuk akar. Sifat-sifat
bentuk akar seperti berikut.
1. × ab = a b , dengan a dan b merupakan bilangan real positif. Contoh: 21= 7 3 × . 2. =a a b b , dengan a ≥ 0 dan b > 0. Contoh: 2 2 2 1 = = = 6 6 3 2 3 × .
Operasi aljabar pada bentuk akar mempunyai sifat-sifat seperti berikut.
1. ( ) a c+b c = a+b c , dengan a, b, c bilangan real dan c ≥ 0. 2. ( ) - - a c
b c = a b c , dengan a, b, c bilangan real dan c ≥ 0. 3. ( ) × a c b d = ab cd
, dengan a, b, c, d bilangan real dengan a ≥ 0 dan b ≥ 0.
dapat dirasionalkan
dengan cara: × a a b a = = b bb b b Bentuk
akar c a+ b Sekawan penyebut a+ badalah.
( ) -- × = -- c a bc c a b = a ba+ b a+ b a b
Catatan: Bila penyebutnya adalah -a b , maka bentuk sekawannya adalah
a+ b.
A. PERSAMAAN KUADRAT Persamaan kuadrat adalah suatu persamaan yang
pangkat (derajat) tertingginya dari variabel/ peubahnya adalah 2 (dua). 1.
Bentuk Umum Persamaan Kuadrat Persamaan kuadrat memiliki bentuk umum: ax2 + bx
+ c = 0 dengan a, b, c ∈ R dan a ≠ 0
dan x variabel. Contoh: 2x2 – 4x + 3 = 0, a = 2, b = –4, c = 3. 2. Mencari
Akar-akar Persamaan Kuadrat Akar-akar dari persamaan kuadrat dapat ditentu- kan
dengan cara berikut. a. Pemfaktoran Contoh: l Tentukan himpunan penyelesaian
dari persamaan x2 + 4x + 3 = 0. Jawab: Untuk memfaktorkan bentuk x2 + 4x + 3 =
0, dicari nilai dua bilangan yang mana: v jumlahnya
4, (dari koefisien x) v hasil kalinya
3. (hasil kali koefisien x2 dengan
konstanta) Bilangan-bilangan itu adalah 1 dan 3.
x2 + 4x + 3 = 0 ⇔ (x + 1)(x +
3) = 0 ⇔ x + 1 = 0 atau x + 3 = 0 ⇔ x = –1 atau x = –3 Jadi, himpunan penyelesaiannya = {–1, –3}. l
Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan 2x2 + 5x – 3 = 0. Jawab: Untuk
memfaktorkan bentuk 2x2 + 5x – 3 = 0, terlebih dahulu dicari nilai dua bilangan
yang mana: v jumlahnya 5, (dari
koefisien x) v hasil kalinya –6. (hasil
kali koefisien x2 den- gan konstanta (2 ×( –3) = –6)) Bilangan-bilangan itu
adalah –1 dan 6. 2x2 + 5x – 3 = 0 ⇔ 2x2 + 6x – x
– 3 = 0 ⇔ 2x(x + 3) – (x + 3) = 0 ⇔ (2x – 1)(x + 3) = 0 ⇔ 2x – 1 = 0 atau x + 3 = 0 x = ½ atau x = –3 Jadi, himpunan
penyelesaiannya = {½, –3}. b. Menggunakan Rumus ABC Diketahui bentuk persamaan
kuadarat ax2 + bx + c = 0. Rumus ABC: 2
1,2 b b 4acx = 2a - ± -
3. Menyusun Persamaan Kuadrat Jika Dik- etahui Akar-akarnya
Diketahui x1 dan x2 adalah akar-akar
per-sa- maan kuadrat. Persamaan kuadrat tersebut adalah: (x – x1)(x – x2) = 0
x2 – (x1 + x2)x + x1x2 = 0
B. PERTIDAKSAMAAN KUADRAT Pertidaksamaan kuadrat adalah suatu pertidak-
samaan yang variabel/peubahnya berpangkat (berderajat) paling tinggi 2 (dua).
Hasil kali dua bilangan asli genap
yang berurut- an adalah 360. Bilangan terbesarnya adalah .… Jawab:
Misalkan: Bilangan I = x Bilangan II = (x + 2) Hasil kali dua bilangan asli
genap yang berurut- an adalah 360, maka:
x(x + 2) = 360 ⇔x2 + 2x = 360 ⇔x2 + 2x – 360 = 0 ⇔ (x – 18)(x + 20) = 0 ⇔x = 18 atau x
= –20
Karena bilangan yang dimaksud adalah bilangan cacah genap maka:
Bilangan I = x = 18 Bilangan II = x + 2 = 20 Bilangan yang terbesar di antara
keduanya adalah 20.
No comments :
Post a Comment